Monday, October 06, 2008 @ Monday, October 06, 2008
Pergi..

Sesungguhnya ia sudah memberi sinyal jauh sebelum apa yang disampaikannya jadi kenyataan, dan sore yang diguyur hujan deras ini, ia benar benar membulatkan tekad menuntaskan pengabdiannya. 

Selamat kawan, selamat menempuh hidup baru, bukankah hidup adalah sebuah pilihan dan kita tentu harus siap dengan segala bentuk resiko dari pilihan itu. 

Tuesday, August 26, 2008 @ Tuesday, August 26, 2008
Aku masih disini

Aku masih disini, setia dengan kesendirian, kekosongan.

@ Tuesday, August 26, 2008
Kambuh....

Sakit di kaki dan bahu ini kambuh lagi..

Tuesday, August 05, 2008 @ Tuesday, August 05, 2008

Chat With Pien

sweet_pien: kok dipajang lagi sich foto tato itu
sweet_pien: >:)
sweet_pien: X-(
sweet_pien: :x
sweet_pien: bro

belalang178: ya
sweet_pien: ada tawaran menarik nich
belalang178: darimana
belalang178: eh Pien
belalang178: abang ngirim testimoni ya 
belalang178: kalau bisa dimuat di Padek

sweet_pien: testi?
belalang178: bukan testi di FS
belalang178: testi tulisan di koran
belalang178: untuk IJP

sweet_pien: mana?
belalang178: bentar dong
belalang178: masih nyelesain

sweet_pien: ada tawaran nich
belalang178: tawaran dari mana
belalang178: pindah

sweet_pien: memback up fasli
belalang178: di Jakarta
belalang178: jangan deh
belalang178: statusnya apa
belalang178: Jakarta kalah bersaing ma wartawan lain

sweet_pien: kontributor n back up cari iklan
belalang178: dan porsi berita tuk sumbar juga nggak banyak
belalang178: jangan

sweet_pien: inipun kalau berminat
belalang178: tetap di Padang aja
sweet_pien: kalo gak, kita cari yang lain
belalang178: itu namanya pien di lemparin keluar dari Padang
belalang178: itu taktik di Padek
belalang178: suruh aja cari sendiri

sweet_pien: bukan
belalang178: kok malah pien yang nyari
sweet_pien: dirimu yang ditawarin
sweet_pien: mau gak?

belalang178: hah
belalang178: ha ha 
belalang178: kenapa hrs ke diriku
belalang178: ide gila siapa itu

sweet_pien: saya dan bang very
sweet_pien: maaf kalo terkesan gila

belalang178: alasannya apa
belalang178: apa kata dunia nanti

sweet_pien: karena kinerja fasli turun
belalang178: karena statusnya juga ngga jelas kali..?
belalang178: perjelas aja status fasli

sweet_pien: n juga mau cari omzet tambahan 
sweet_pien: apalagi zamn politik
sweet_pien: banyak caleg yang bisa digarap untuk buat iklan n pariwara

belalang178: sebenarnya sih kalau Fasli mau itu bisa dilakukan
belalang178: abang pernah bilang hal itu ke Eri dan teman teman lain di Padnag

sweet_pien: bisa gak nggak ngomongin bang fasli dulu
belalang178: oke oke
sweet_pien: kita lagi ngomongin abg
belalang178: :D
sweet_pien: karena kami berdua dah ngadep pak cici, n pak zaili
belalang178: diriku tersanjung...:D
belalang178: lalu..?

sweet_pien: trus tadi, mereka kasih lampu hijau
sweet_pien: katanya. biasanya Padek mengharamkan orang yang sudah keluar, untuk direkrut lagi

belalang178: amat sangat haram
sweet_pien: tapi untuk kasus ini, bisa dinegosiasikan
belalang178: ha ha 
sweet_pien: asal....Kata pak cici
belalang178: asal apa
sweet_pien: dirimu bisa capai target
belalang178: target apa
sweet_pien: visi bisnis, karena banyak yang bisa digarap momen pemilu ini
sweet_pien: n juga bantu pemberitaan iklan
sweet_pien: n juga liputan tentunya
sweet_pien: masalah gaji, rencana juga dibicarakan
sweet_pien: namanya kontributor jakarta
sweet_pien: tertarik?
sweet_pien: kalo gak, ya rencana, kita mau cari orang lain di jakarta

belalang178: deadlinenya kapan..?
sweet_pien: karena banyak yang digarap disana
belalang178: banyak sih
belalang178: yang penting kreatif

sweet_pien: belum lagi DPD
sweet_pien: belum lagi caleg RI
sweet_pien: apalagi iklan2 parpol
sweet_pien: bisa 1 halaman
sweet_pien: wuuiiihh...Komisinya gede loch

belalang178: pien
belalang178: ini soal kepastian

sweet_pien: bukan kepastian dari dirimu
sweet_pien: apa mau atau tida

belalang178: bagi abang bekerja kembali ke padek tentu jelas hrs ada kepastian 
belalang178: status

sweet_pien: itu aja
belalang178: gaji dan lain aja
sweet_pien: makanya kalau bersedia, kita bicarakan lagi sama pak zai n pak ci
belalang178: makanya tadi abang tanya..
belalang178: deadlinenya kapan...? dan bagaimana dengan Fasli

sweet_pien: ya...
sweet_pien: kesempatan gak datang dua kali bang

belalang178: betul
sweet_pien: selagi, mereka membuka lampu hijau
belalang178: dulu mereka berdua yang mencampakkan diriku
sweet_pien: biasanya mereka gak mau
belalang178: menghinakan serendah rendahnya
belalang178: gini aja
belalang178: abang bisa terima

sweet_pien: bang 
belalang178: namun statusnya temporer
sweet_pien: semuanya juga
belalang178: bukan organik
belalang178: karena abang juga ada project lain
belalang178: riset dan penelitian
belalang178: trus di ADKASI
belalang178: abang bisa bantu Fasli 

sweet_pien: makanya abang dikasih target
belalang178: tuk kontributor berita
belalang178: nyari pariwara

sweet_pien: dalam 3 bulan
belalang178: atau lain sebagainya
belalang178: tapi statusnya temporery

sweet_pien: iya
belalang178: abang nggak mau permanen
sweet_pien: itu semua bisa dibicarakan
sweet_pien: memang gak nyari yang permanen

belalang178: dan abang mau ada kejelasan 
belalang178: soal komisi, soal tugas dan fungsi
belalang178: gitu aja

sweet_pien: semuanya berawal dari kebersedian n bisa memenuhi target
belalang178: karena dirimu yang meminta
belalang178: aku minta waktu satu hari ini
belalang178: bicara dengan istri
belalang178: bicara dengan diri sendiri
belalang178: dan memahami keadaan
belalang178: karena keputusan tidak serta merta membuat keniscayaan

sweet_pien: kalau abang bersedia
sweet_pien: nanti kita bicarakan step kedua
sweet_pien: termasuk yang tadi
sweet_pien: aku diburu waktu bang....
sweet_pien: karena aku diminta cari yang lain
sweet_pien: kalau dirimu g bersedia
sweet_pien: n dalam minggu ini aku, harus menyuguhkan 1 nama
sweet_pien: ok
sweet_pien: kapan kasih jawaban

belalang178: dan boleh bertanya..?
belalang178: kenapa dirimu dan oktaveri tiba tiba mengajukan nama seorang lelaki nista dan pernah dinistakan oleh Padang Ekspres ini

sweet_pien: gak usah dibahas
sweet_pien: ok
sweet_pien: pertanyaannya juga gak enak
sweet_pien: gak bisa dikunyah
sweet_pien: pahit

belalang178: jawab aja
belalang178: karena jawaban akan memberikan jawaban seketika

sweet_pien: maunya jawaban apa
belalang178: sederhana dan simpel saja 
belalang178: kenapa
belalang178: kalian mengajukan BLP

sweet_pien: karena dia ada di jakarta
sweet_pien: karena kami sudah tau sikapnya
sweet_pien: karena dia punya link

belalang178: yang mencuri uang iklan
sweet_pien: karena dia sudah tau kebutuhan padek
sweet_pien: karena dia sudah tau kesalahan

belalang178: yang memakai uang iklan tuk bayar ambulan mayat neneknya tanpa persetujuan bos besarnya
belalang178: hallah..basi..!!!

sweet_pien: karena dia tau konsekwensi
belalang178: perih 
belalang178: kalau mengingat itu pien

sweet_pien: tadi minta jawaban
belalang178: nista 
belalang178: hina
belalang178: dan tercampakkkan sekali rasanya

sweet_pien: kok dipotong sich
belalang178: oke
belalang178: aku terima tawaran itu
belalang178: aku bisa bantu

sweet_pien: kalau dibahas2 lagi bang,,,gak ada habisnya
sweet_pien: makanya aku gak mau 

belalang178: ini bukan soal kesempatan kedua
belalang178: karena ini soal harga diri

sweet_pien: aku lagi butuh logika
sweet_pien: sorry

belalang178: aku harus membersihkan diriku disana
sweet_pien: perasaan saat ini aku kesampingkan
belalang178: yang pernah dihinakan dengan sangat keji 
belalang178: aku terima ini demi harga diri yang pernah terkoyak disana

sweet_pien: karena kalau mau bahas itu, semuanya juga pasti angkat bicara
belalang178: mereka semau menuduhku
belalang178: mempenjarakan diriku
belalang178: aku bantu iklan, pariwara dan pemberitaan 

sweet_pien: maaf
sweet_pien: aku hanya menangkap iya saja
sweet_pien: yang lain gak masuk dalam tawaran
sweet_pien: nelp ya??
sweet_pien: kalau nanti ada kawan di jakarta
sweet_pien: yang lain
sweet_pien: kasih tau
sweet_pien: soalnya kita juga butuh yang iklan
sweet_pien: aku harus butuh dalam minggu ini nama itu

Silahkan nilai sendiri...untuk sementara aku butuh waktu tuk berbegosiasi dengan diri sendiri


@ Tuesday, August 05, 2008

IJP Selemat Menempuh Hidup Baru

Dalam kereta listrik yang mengantarkan saya pulang dari kantor di kawasan Cikini Menteng ke Depok pekan lalu, telepon genggam saya berbunyi memberitahukan ada panggilan masuk dari keluarga dekat. Segera saya membukanya dan melihat nama analis politik CSIS Indra Jaya Piliang memanggil. Saya segera menjawab, maklumlah ini pasti ada kabar dari keluarga kepada kerabatnya yang lain. Setelah berbasa basi menanyakan keadaan dan sedang berada dimana, saya segera mendapatkan permintaan Indra untuk mau bertemu keesokan harinya di sebuah warung minum teh di kawasan Senopati Jakarta Selatan. 

Secara hirarki kekeluargaan, memang saya berada satu generasi diatas generasi IJP, saya adalah adik ibunya Indra dari nenek kami yang sama, namun secara hirarki profesi, IJP adalah atasan saya di Yayasan Harkat Bangsa Indonesia Centre yang dulunya bernama YHB Centre. IJP adalah Direktur Eksekutif sementara saya hanyalah staf dengan posisi semenjana di LSM penelitian tentang politik, otonomi daerah dan parlemen lokal itu. 

Jadilah keesok harinya saya, dan IJP bertemu dengan beberapa staf peneliti YHB lainnya, ada ES Ito yang pengarang buku laris manis Negara Kelima dan Rahasia Mede, dan beberapa saat juga datang peneliti politik LSI Miftah N Sabri serta beberapa teman lain.

Pokok pembicaraan kami adalah IJP secara resmi mengumumkan kepada YHB Indonesia bahwa ia akan segera mengakhiri kesehariannya sebagai peneliti/analis politik dan perubahan sosial di tanah air untuk kemudian menjadi seorang politisi. “Ambo nio jadi caleg dan partainyo alah ado,” begitu kata IJP kepada saya siang itu. 

Kontan pernyataan yang tiba tiba ini membuat saya kaget, apa kata dunia nanti jika seorang IJP yang selama ini memakai jaket netral dan menjadi komentator pertandingan politik kini malah berubah menjadi pemain politik, tentu ini sebuah berita besar dan sudah barang tentu membuat dunia ilmuan politik menjadi kehilangan seorang analis yang tajam, dengan komentar dan pernyataan yang berani.

Memang, menjadi pemain politik sebenarnya bukan hal baru bagi IJP, pada tahun 1998 lalu, ketika Amien Rais dan bersama aktifis gerakan pro reformasi lainnya mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN), IJP sudah masuk sebagai fungsionaris di partai itu meski kemudian pada tahun 2001 ketika Kongres PAN ia bersama Faisal Basri dan beberapa nama lainnya menyatakan keluar dari PAN karena alasan perbedaan pandangan.  

Dalam rentang waktu hampir sewindu lamanya IJP kemudian lebih dikenal sebagai analis politik/perubahan sosial dan orang yang sering dimintai komentarnya tentang situasi politik dan pemerintahan baik oleh media cetak maupun elektronik. 

Bagi saya ketika berbicara dan bertanya kepada Indra apa yang membuat ia kemudian memutar haluan hidupnya dari seorang analis politik ke politisi, dari pengamat ke pemain dan dari pinggir lapangan ke dalam lapangan. Ia hanya menjawab singkat, bahwa sudah saatnya ia masuk ke gelanggang politik. 

Saya jadi ingat tulisan yang tidak sempat saya kirimkan ke media massa, tentang tantangan saya kepada cendikiawan muda untuk berpolitik. Meski sebelumnya sudah ada Rama (Pratama-pen), Anas (Urbaninggrum) dan banyak nama lainnya.

Namun bagi saya sinyal yang dikirim oleh Rama dengan berhasil menaklukan DKI Jakarta pada pemilu legislatif tahun 2004 lalu, serta sinyal kuat lainnya dari Anas yang menjadi bagian dari partai pemerintah tidak serta merta merubah keinginan anak muda lain untuk berpolitik. Stimulasi serupa juga dilakukan oleh bukti otentik penentang Orde Baru Bung Budiman Sudjatmiko dengan memulai dari organisasi sayap PDI-P dengan REPDEMnya. 

Saya kira, Indra telah memberi sinyal lain kepada kaum intelektual muda untuk mau terjun ke politik praktis dengan menggunakan kendaraan partai politik. Jika Fadjroel Rahman, Ratna Sarumpaet, Rizal “Celly” Malarangeng memilih untuk mengajak kaum muda untuk maju secara sendiri-sendiri, namun tidak demikian dengan Indra. Tanpa partai politik saat ini, keniscayaan akan terpilih masih jauh dari harapan. 

Partai (menurut hemat saya) masih menjadi alat untuk mencapai kekuasaan. Saya juga tidak hendak mematahkan semangat sebagian calon indipenden yang saat ini tengah berlaga di pilkada langsung khususnya di Padang bahwa tanpa partai mereka tidak akan ada apa apanya. Namun berpartai saat ini adalah solusi untuk itu yang masih cukup ampuh.

Hari ini atau tepatnya pagi ini Indra akan menyampaikan pidato politik pertamanya sebagai seorang politisi. Untuk kemudian Indra tidak lagi kita sebut sebagai IJP yang peneliti politik atau orang CSIS, namun Indra atau IJP yang politisi Partai Golkar. Indra juga menyebutkan konseksuensi dari pilihannya tersebut. 

Saya pernah bertanya kepada Indra, kenapa kendaraan politiknya Golkar, kok tidak partai lain semisal kembali ke “rumah” PAN, atau ke PBB karena secara historis dan emosional kami sekeluarga lebih dekat ke Masyumi yang bereinkarnasi dalam bentuk PBB, atau ke partai politik baru yang lahir sebagai alternative dari partai politik lama. Indra hanya menjawab bukankah sudah membaca hasil hasil survey dari lembaga lembaga survey terkemuka. Selain itu, dibalik ini semua, ada aktor lain yang memasukkan Indra ke Partai Golkar. 

Indra dalam pidato politiknya yang dibacakan hari ini dan saya diberi kehormatan untuk membacanya lebih dahulu bersama Benny Innayatullah peneliti politik dan perubahan di The Indonesian Institue dan ES Ito serta Miftah di YHB Indonesia menyebutkan nama nama seperti Prof.Dr.Azyumardi Azra, dan Prof.Dr.Djohermansyah Djohan mempunyai andil dalam memasukkan nama namanya kedalam Partai Golkar. 

Hari ini, kabar telah sampai ke gelanggang, Indra sudah mengikatkan dirinya pada Partai Golkar, dan saya berharap ini adalah “pernikahan” terakhir Indra dengan partai politik. Cukuplah ia menghabiskan sisa umur politiknya dan menjalani hari hari demi dengan partai ini. 

Ketika alasan sudah dipaparkan oleh IJP, dukungan dari ranahminang seperti shalat mencari imam, tak ada yang perlu menggugatkannya. Justru dengan doa restu yang tulus. Seorang anak nagari yang berangkat lagi ke Jakarta sana membawa sekeranjang harapan dari daerah…  
Akhirnya saya mengakhiri tulisan ini dengan mengucapkan, selamat menempuh hidup baru pada Indra Jaya Piliang. Politisi yang lahir dari rahim reformasi. 


Wednesday, July 30, 2008 @ Wednesday, July 30, 2008
Lembaran lama

Sesaat setelah membuka album lama di http://www.photobucket.com/ aku seperti merasa kembali menemukan sesuatu yang hilang. Entah apa itu, namun serasa mendapatkan kembali barang berharga yang hilang.

Kenangan lama, cerita lama dan rentetan kejadian kembali muncul silih berganti memenuhi ruang otak. Mengaduk emosi, mempermainkan kenangan hingga mampu membuat tersenyum, tertawa bahkan berlinang air mata.

Sungguh aku terbiasa untuk memaafkan semua kesalahan orang padaku, namun seperti kata Bu Erni (entah dimana dia sekarang yang jelas kerja di BNI) aku gampang memafkan, namun teramat sulit melupakan. Benar, itulah Boby Lukman, dengan mudah memberi maaf pada siapa saja, namun teramat susah untuk menghapus semau kesalahan itu dari ruang otak dan ingatan.

Aku bersusaha menghilangkan tabiat itu, sekuat tenaga, namun masih saja sulit. entah sampai kapan akan terus begini..

Thursday, July 24, 2008 @ Thursday, July 24, 2008

Maka bergeraklah gerbong orang muda

Beberapa waktu yang lalu, saya mengirim sebuah email ke mailing list komunitas orang minang, saya memprotes majunya kembali para orang tua dalam pemilihan kepala daerah, anggota DPD, DPR-RI dan DPRD. 

Bukan karena saya takut bersaing atau jago saya akan kalah jika harus bersaing dengan orang tua itu saya memprotes, namun karena keprihatinan saya akan mundurnya gerakan alih generasi di negeri ini dan negeri kampung halaman saya tentunya. 

Awalnya postingan saya tersebut mendapat respon yang baik, bahkan beberapa teman sebaya, serta senior mendukungnya sebagai sebuah sikap yang berani mengkritik orang tua.

Sahabat saya Abdullah Khusairi sampai mengirimkan sms bernada salut, namun yang namanya dinamika tentu saja ada yang menolak dan ada juga yang mendukungnya. Sebagian para ornag tua mendukung apa yang saya katakan, namun sebagian mengkritiknya dengan halus dan mengatakan bahwa hak berpolitik (dipilih dan memilih) tidaklah ad batasan usianya. 

Sejujurnya saya ingin mengatakan bahwa memang tidak ada batasan usia untuk berpolitik baik itu politik aktif (berpartai dan mencalonkan diri) maupun politik pasif (dipilih dan memilih), akan tetapi ini soal keberlanjutan dan fatsun yang selama ini kita fahami. 

Orang tua seharusnya memberi jalan dan kesempatan pada kaum muda untuk mau ke depan dan mengambil alih kepemimpinan. Memang benar bahwa tongkat estafet tidak diberikan sambil berhenti, akan tetapi sambil berlari sprint, namun jika pelari yang memegang tongkat tidak melepas tongkatnya, maka akan terjadi perebutan yang berbuah keiadian memalukan. itu jelas tidak kita inginkan. 

Thursday, July 17, 2008 @ Thursday, July 17, 2008

Saturday, July 12, 2008 @ Saturday, July 12, 2008
Habis Manis, Sepah di Recycle Bin



Kalau ada ungkapan lama tentang habis manis sepah dibuang, memang begitulah yang terjadi selama ini lazimnya dalam kehidupan kita. Sepah, seperti namanya memang sisa yang harus dibuang.

Aku ingat ketika masih kecil sering melihat ibu membuang sepah kelapa sehabis diperas santannya. Atau aku sendiri yang belum terbiasa makan daging rendang habis menyepahi bumbu rendang yang ada di daging, bukannnya menelan daging itu, aku malah membuangnya ke tanah dan berharap ada kucing yang mau datang menyelamatkan si sepah.

Aku tak hendak menceritakan tentang nasib sepah yang dibuang ke tong sampah atau sepah yang dikejar kucing, namun aku ingin sedikit berbagi dengan pengalaman teman. Ia baru saja diberhentikan oleh perusahannya karena dianggap sudah tidak mampu lagi memberikan karya terbaiknya untuk kantor tempat dia bekerja.

Dia sudah dianggap tidak lagi produktif baik dari sisi ide ide dan kreatifitas maupun dari sisi kemampuan berbuat. Maklum saja temanku ini baru usai check out dari hotel Rumah Sakit setelah sekian lama dirawat disana.

Kini, setelah ia dianggap tidak mampu memberikan karyanya kepada perusahan, ia diserahi surat bahwa kontraknya sudah berakhir dan perusahaan tidak akan memperpanjang. Begitulah temanku. Habis manis sepah dibuang eh di recycle bin

@ Saturday, July 12, 2008
Sorban, Baju Koko, Sarung dan Ketaatan pada Lalu Lintas

Sabtu, malam sekira pukul 20.00 WIB, aku melewati jalan Mampang menuju arah Buncit untuk seterusnya meluncur ke Pasar Minggu. Sepanjang jalan di Mampang mulai dari prapatan Duren Tiga hingga ke pertigaan Pasar Minggu - arah Ragunan aku melihat banyak orang orang berkopiah putih dan berbaju koko, serta memakai sarung.

Sebelumnya ini pemandangan biasa karena sudah sering memang melihat orang orang ini beredar di sekitar jalan itu. Karena ketika masih tinggal/menumpang di Buncit tempat kakak, aku sudah sering melihat rombongan orang berkopiah dan berbaju koko ini melintas di jalan raya.

Mereka (dengan banyak maaf terpaksa disampaikan disini) berkendara di jalan raya tanpa helm, duduk di atap mobil, metro mini, bergerombol di jalan raya dan berteriak teriak dan mengibarkan bendera bertuliskan kalimah kalimah suci.

Aku jadi ingin dan sangat ingin bertanya kepada mereka..inikah Islam yang mereka sebut damai dan penuh dengan kelembutan itu. Inikah potret Islam yang taat pada aturan hukum itu dan inikah Islam yang selalu mengedepankan sikap menghormati orang lain, dan menghargai nyawa sendiri.

Bayangkan jika dalam perjalanan mereka itu terjadi kecelakaan, terjatuh misalnya, atau motor yang melaju itu tergelincir akibat mengerem mendadak atau juga metro mini yang ruang kabinnya kosong tapi atapnya penuh itu tanpa sadar mengerem mendadak dan menyebabkan anak anak kecil berkopiah dan bersarung serta berbaju koko itu jatuh ke aspal.

Kemana orang tua mereka ?, kemana pemimpin mereka ?, kenapa tidak ada yang melarang anak anak itu naik ke atap metro mini atau memerintahkan agar pengendara motor itu memakai helm.

Aku juga Islam dan menunaikan Shalat 5 kali sehari semalam, namun sepanjang pengajaran yang aku terima tidak ada satupun ajaran yang menyebutkan tentang orang Islam boleh tidak pakai helem meski alasannya lagi bergegas menuju tempat ibadah.

Pada awal tahun lalu lalu seorang teman yang nasrani pernah menyesalkan sikap polisi di Depok yang menghentikan motornya karena berkendara di malam natal tanpa menggunakan helm, padahal ia mendapat tugas dari gerejanya untuk membagi-bagikan sembako kepada masyarakat kurang mampu. Sementara ia melihat dengan mata kepala sendiri ketika pria pria berbaju koko naik motor ke masjid setiap Jum'at tanpa helm justru dibiarkan oleh polisi.

Aku kira, Islam adalah agama yang mendukung penuh pelaksanaan peraturan yang memang diperuntukkan guna mengatur kehidupan di dunia. Tapi kenapa masih saja ada (sebagian) orang Islam yang tidak sadar akan hal itu.

Maaf untuk yang tidak berkenan pada postingan ini, namun aku mengajak untuk sejenak memikirkan untuk kemudian menindaklanjuti dengan perbuatan. Bahwa Islam juga harus taat pada ATURAN...

Friday, July 11, 2008 @ Friday, July 11, 2008
Mak Erot dan Problematika "Anunya" Lelaki.



Kemarin dan tadi pagi, aku membaca berita di Detik dan sebuah koran lokal tentang kepergian Mak Erot ke alam baka. Tidak ada yang luar biasa sebenarnya, tokh semua manusia pasti akan kembali kepadaNya.

Namun setelah itu sepanjang jalan antara Stasiun UI ke Tanjung Barat, aku mulai dirasuki pikirna nakal untuk segera menuliskan cerita ini.

Mak Erot, nama wanita ini memang fenomenal. Ia muncul sebagai seorang ahli terapi untuk alat vital kaum adam. Iklan tentang terapi Mak Erot merajai koran koran lokal mulai dari halaman satu (utama) sampai halaman belakang. Mulai dari iklan berwarna dengan ukuran besar sampai iklan hitam putih berukuran sedang.

Bahkan, jika Mak Erot tidak beriklan di mediapun, ia sudah patut berterima kasih pada candaan anak anak muda yang kurnag pede karena ukuran si "Boy" yang dianggap tidak mumpuni.

Konon bagi sebagian kaum wanita, ukuran alat vital lelaki yang besar dan panjang adalah sebuah syarat untuk meraih kenikmatan dlaam bercinta. Aku juga heran soal kenikmatan di ranjang kok malah di ekspos. Tapi itulah, Mak Erot tiba tiba menjadi ikon pembesaran alat vital kaum adam.

Sebenarnya selain Mak Erot ada juga nama nama lain yang punya kemampuan sama dengan Mak Erot dalam urusan membesarkan si Buyung. Namun strategi branding Mak Erot yang jor joran dan info dari mulut ke mulut yang berlangsung tiada henti akibat adanya best practise menyebabkan Mak Erot tak terkalahkan.

Sekarang Mak Erot sudah tiada, tentu para pria yang punya "anu" kecil akan berduka. Tapi kata koran lokal itu, Ilmu Mak Erot sudah ditransfer ke cucunya--Jadi para lelaki, jangan takut, masih ada Mak Erot eh Neng Erot lain yang akan membantu anda menyelesaikan persoalan itu.

@ Friday, July 11, 2008
Vote for Alirman Sori, SH, MH, MM



Pilih Alirman.

Jika anda menginginkan Sumatera Barat yang lebih baik dimasa datang, jangan ragu untuk memilih pemuda ini. Masih muda, belum 40 tahun, punya visi bagus dalam kepemudaan, politisi berbakat, wartawan handal dan tentu saja pembawa aspirasi yang diyakini akan mampu membawa perubahan.

Jika hari ini dilaksanakan pemilu untuk memilih anggota DPD, saya tidak lagi akan memilih salah satu dari Mochtar Naim, Afdal, Irman Gusman atau Zairin. Saya akan ikut memilih dan mencontrengkan pena saya kepada nama dan foto anak muda ini. 

Mari ikutlah bersama saya memberikan suara kepada ALIRMAN SORI, SJ, MH, MM untuk Sumatera Barat yang lebih baik dimasa datang.

Thursday, July 10, 2008 @ Thursday, July 10, 2008
Menonton Kungfu Panda



"Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift"
Quote by Master Oogway

Memang begitulah, hari esok tidak ada yang tahu akan seperti apa. Semuanya adalah misteri yang tidak akan bisa kita ketahui meski bisa ditebak. Namun yang namanya tebakan, pastilah sebuah perjudian.

Yang menarik dari film Kungfu Panda adalah banyaknya pelajaran pelajaran filosofi yang disajikan kepada penontonya. Bagaimana Master Oogway membentuk Po, si panda pemalas, suka makan, tidur ngorok dan payah itu menjadi seekor panda yang memiliki kepercayaan diri.

Film ini membuktikan kepada kita semua, bahwa sesederhana apapun penyajiannya, namun dia tetap membawa pesan pendidikan.

@ Thursday, July 10, 2008
"Yenny Wahid, Saya menyesalkan tindakan anda"
(sebuah kritik untuk putri mahkota Gus Dur)

"Saya kira PKB yang resmi adalah Ketua Umum Ali Masykur Musa dengan Ketua Dewan Syuro Gus Dur,"

Sungguh statemen ini menggambarkan bahwa Yenny Wahid (putri Abdurrahman Wahid/Gus Dur) adalah sebuah statemen yang tidak etis dan membangkangi hukum. Saya melihat ini sebagai sebuah tindakan kekanak kanakan dari elit PKB yang tidak siap berdemokrasi dengan baik. PKB bukanlah partai milik satu kelompok (keluarga-pen) saja, atau milik kaum NU semata. PKB adalah partai bangsa dan aset politik negara yang harus dirawat, dijaga dan dibiarkan tumbuh secra sehat.

Segala pertikaian di dalam PKB baik pertikaian cara pandang, kedudukan dan lain sebagainya harus diselesaikan secara dewasa dalam tempo yang sesingkat singkatnya. 

Saya bukan warga PKB atau anggota PKB, namun saya mentertawakan untuk kemudian menyesalinya kejadian memalukan ini karena berlangsung di depan semua pimpinan parpol.

Semoga Yenny Wahid dan Cak Imin mengetahui penyesalan saya.

Tuesday, July 01, 2008 @ Tuesday, July 01, 2008
Kereta listrik yang sumpek dan pengamen yang menenangkan



Ini tentang perjalanan rutin di pagi hari dari UI ke Cikini, dimana sebuah ritual kesibukan dimulai dengan menyembahNya, lalu berjalan ke stasiun kereta untuk memenangkan perebutan kekuasaan atas tempat duduk di kereta yang sarat dengan bau pete dan tai ayam.

Dan seperti yang sudah ditebak, aku memang selalu dapat dikalahkan dengan mudah oleh para penguasa kereta itu. Memang begitulah hal yang lazim di kalangan kami manusia berkasta sudra ini. Pagi naik kereta yang sudah layak dan amat sangat pantas disebut tidak layak untuk manusia, lalu berebut kekuasaan meski hanya untuk se inchi tempat kaki agar bisa terus menyambung hidup dengan bekerja sebagai buruh tertindas di hiruk pikuknya kapitalisasi atas nama pembangunan.

Aku baru mendapatkan kemenangan atas tempat duduk atau sedikit kelegaan ketika kereta bau itu sudah merambat pelan meninggalkan stasiun Cawang. Di stasiun ini, kelas pekerja dari berbagai sudut kota bergegas meninggalkan stasiun lalu menuju lokasi ritual hariannya.

Biasanya di stasiun ini mulai masuk barisan penjual suara. Mereka juga beragam ternyata, ada yang bermodal lengkap, namun tak jarang yang hanya bermodal suara parau. Berani taruhan, produser rekaman kelas kambingpun tidak akan meliriknya untuk diajak ke dapur rekaman.

Namun kali ini, aku cukup beruntung, sekelompok anak muda (sedikit kumal) naik ke gerbong, mereka membawa sebuah bas celo, sebuah biola dan tentu saja pakai penggeseknya, lalu dua gitar akustik berkasta lebih rendah dari gitar murahan sekalipun. Berbasa basi, seperti layaknya kebiasaan pengamen, satu diantara mereka mulai menggesek biola.

Dan ajaib, gesekan itu langsung membawaku terbang. Pengamen itu tanpa suara yang keluar dari mulutnya mampu memainkan alunan lembut lagu lagu yang menjadi soundtrack sinema sabun winter sonata dan lagu khas jepang lainnya.

Dan sejenak bisa mengurungkan niatku untuk mencaci maki pengurus negeri ini yang membersihkan kereta hadiah dari Jepang saja tidak mampu apalagi membuatnya.